Rumah Limas merupakan rumah tradisional Palembang yang seluruh bagiannya terbuat dari kayu. Sesuai dengan namanya, rumah limas mempunyai bentuk limasan dengan gaya panggung. Pondasi rumah limas terbuat dari kayu ulen, pemilihan kayu ini bukan tanpa sebab mengingat kayu ulen mempunyai struktur yang kuat dan tahan air. Sementara bagian rumah yang lain  seperti pintu, pagar, dan lantai terbuat dari kayu trambesi tanpa menggunakan satu pun paku.

Rumah limas dalam budaya Palembang mempunyai makna filosofis yang mendalam. Tiap ruangan diatur dengan menggunakan filosofi kekijing. Dalam kekijing terdapat lima tingkatan ruangan yang diatur berdasarkan penghuninya, yaitu usianya, jenis kelamin, bakat, pangkat, dan martabat.

Rumah Limas sebagai rumah tradisonal kini sudah jarang digunakan oleh masyarakat Palembang. Selain keterbatasan lahan, mengingat untuk membangun rumah limas harus memiliki lahan yang sangat luas, membangun rumah limas juga membutuhkan dana yang lebih banyak ketimbang membangun rumah pada umumnya. Oleh karena itulah, masyarakat Palembang percaya, pemilik rumah limas di zaman kesultanan Palembang adalah mereka yang memiliki kedudukan sosial dan ekonomi yang tinggi di masyarakat.

Meski masyarakat Palembang sudah tidak menggunakan gaya rumah limas sebagai hunian mereka, bukan berarti tidak ada rumah limas di Palembang. Salah satu rumah limas yang masih berdiri hingga saat ini adalah rumah limas peninggalan Pangeran Syarif Abdurrahman Al Habsi. Setelah mengalami perpindahan kepemilikan, rumah peninggalan tahun 1830 tersebut akhirnya dipindahkan ke halaman belakang Museum Balaputera Dewa, dan menjadi koleksi terbesar museum yang ada di Jalan Srijaya Negara I, Palembang itu. Bahkan untuk menjaga dan melestarikan bentuk rumah limas Palembang yang kaya akan makna filosofis ini, pemerintah mengeluarkan mata uang pecahan 10.000 rupiah yang bergambar rumah limas. – Ahmadibo

  

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here