Kamis (28/12/2017), kali ini kami hanya berdua saja yaitu penulis dan Pak Ahmad Febrian, Ketua R.T 43 R.W 13. Tujuan penulis hari itu adalah ke Jalan Pertahanan, Plaju, Palembang. Menurut informasi, di Jalan Pertahanan, Plaju, Palembang ini merupakan salah satu tempat ditemukannya sisa peninggalan tentara Jepang saat Perang Dunia II.

Selama perjalanan mencari komplek pertahanan Jepang tersebut penulis selalu bertanya pada penduduk setempat agar tidak tersesat di jalan. Menurut info dari penduduk setempat, komplek pertahanan Jepang berada di Lorong Sikam yang masih berada satu kawasan dengan Jalan Pertahanan, Plaju, Palembang.  Setelah melewati beberapa lorong akhirnya kami sampai di komplek pertahanan Jepang tersebut.  Sesampai di komplek pertahanan Jepang itu penulis menemui Ketua R.T 43, Pak Ahmad Febrian.  Beliau menjadi penunjuk jalan dan merupakan penduduk setempat yang tinggal tidak jauh dari tempat sisa puing-puing komplek pertahanan tentara Jepang.

Dengan berapi-api dan penuh semangat Pak Ahmad menceritakan satu-persatu fungsi dan nama dari bangunan-bangunan sisa komplek pertahanan Jepang tersebut.

Pertama-tama kami diajak oleh Pak Ahmad Febrian ke sebuah rumah, menurut Pak  Ahmad Febrian rumah yang sekarang dihuni oleh warga setempat dulunya berfungsi sebagai sebuah Barak Tentara Jepang.  Barak Tentara Jepang itu memiliki dinding yang sangat tebal yang memungkinkan barak tersebut tahan dari gempuran serangan tentara Sekutu, dahulu Barak Tentara Jepang memiliki bangunan yang jauh lebih besar lagi namun sekarang salah satu sisi barak tersebut telah dirobohkan dan dijadikan rumah warga dengan bentuk bangunan baru.

Ada satu kejadian konyol, saat penulis ditawarkan oleh Pak Ahmad Febrian untuk melihat bagian atas bangunan barak, penuh penasaran tanpa pikir panjang penulis tidak menolak tawaran itu. Dengan ligat penulis menaiki bagian atas barak, sesampai ke bagian atas ternyata bekas Barak Tentara Jepang tersebut penuh digenangi air sehingga saat penulis mencoba berdiri sangat lincin karena banyaknya lumut di permukaan lantai atas bangunan. Akhirnya demi keselamatan, penulis pasrah menginjakkan sepasang kaki ke genangan air tersebut tanpa terlebih dahulu melepas alas kaki, tak dihayal lagi sepatu saya basah digenangi air. Dengan menyesal saya bergerutuk dalam hati, “Kenapa harus naik ke bagian atas dari barak tersebut padahal di atas tidak tedapat apa-apa. Ooh, malangnya nasib saya.”

Berlanjut ke bangunan lain sisa Tentara Jepang, kali ini kami  dibawa Bapak Ahmad menuju suatu lorong yang tidak jauh dari bangunan barak. Di lorong yang padat rumah penduduk tersebut di tengah-tenganya terdapat sisa bangunan yang dahulu merupakan Menara Bunker Anti Aircraft Artillery. Fungsi Menara itu adalah sebagai menara pengintai pesawat udara musuh yang dilengkapi dengan senapan laras panjang sehingga memungkinkan Tentara Jepang menembak jatuh pesawat udara Sekutu yang terbang di atasnya.

Sayang sekali Menara Bunker Anti Aircraft Artillery pertama (anggaplah sebagai yang pertama karena dikunjungi kali pertama) yang kami lihat di komplek pertahanan Jepang ini keadaannya sudah tidak utuh lagi karena dinding bagian atas dari bunker sudah dihancurkan warga setempat.

Sekadar info Menara Bunker Anti Aircraft Artillery di komplek pertahanan Tentara Jepang, Lorong Sikam–Jalan Pertahanan–Plaju–Palembang, kini tinggal puing-puing saja. – Guntur

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here