Cinta kepada Rasulullah tidak cukup hanya dengan membaca syair-syair kerinduan yang diciptakan para ulama terdahulu. Dengan hanya menghadiri majelis-majelis maulud bukan berarti telah terjawab cinta sebenarnya kepada Rasulullah. Karena cinta selalu memiliki ciri-ciri, dan Imam Ali  dalam sebuah hadis mengatakan, “Apabila seseorang mencintai suatu hal maka ia akan selalu mengingatnya.”

Rasulullah adalah pribadi agung dan mulia, semua perilakunya adalah teladan bagi umat manusia. Allah SWT pun memujinya dalam Alquran, sebuah pujian yang tidak dimiliki selain nabi Islam ini. Maka cinta sejati kepada Rasulullah harus terefleksi dalam diri setiap muslim, sehingga keagungan pribadi nabi terbias nyata dalam perilaku umat pecintanya.

Dewasa ini, boleh dikatakan umat Islam telah jauh dari nabinya sendiri. Sebab jauhnya akhlak umat Islam dari akhlak nabinya. Misalnya, ketika menghadapi perbedaan atau perselisihan meskipun dengan sesama muslim sendiri, lebih cenderung mengedepankan kekerasan dan kontak fisik, mengesampingkan dialog dan toleransi. Kekerasan telah menjadi opsi dan masing-masing merasa paling muslim serta memilih anarkisme sebagai solusi perbedaan. Pemikiran semacam ini hanya akan menghancurkan nilai-nilai Islam dan semakin menjauhkan umat dari kecintaan kepada Muhammad.

Upaya musuh Islam sebenarnya adalah menjauhkan umat ini dari nabinya sendiri. Maka diciptakanlah pemikiran-pemikiran yang jauh dari Islam, sehingga melupakan ajaran agung dan akhlak mulia sang nabi.

Dalam Surat Al-Fath ayat 59, Allah Swt berfirman: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi mengasihi sesama.”

Namun kini kondisinya justru terbalik, sesama muslim bermusuhan dan tidak ada kasih sayang. Bermesraan dengan musuh dan bekerjasama dengan mereka untuk menghancurkan saudara sendiri. Sikap ini otomatis menghancurkan umat dan tidak mencerminkan ciri sebagai muslim, sebagai pecinta nabi Muhammad.

Bulan Maulid merupakan saat yang tepat kaum muslim untuk bersama-sama memperingati kelahiran keagungan Nabi Muhammad Saw, dan memupuk kembali cinta dan kebersamaan. Ketika mahalul qiyam dalam pembacaan syair “Marhaban ya nurul `ain, marhaban ya Jaddal Husain,” saatnya umat Islam mengenyampingkan perbedaan dan bergandengan tangan. Demikian Ustadz H. Darami, S. IP, S. Pd.I menyampaikan tausiyah di Masjid Nurul Falah R.T 09 R.W 03 Kelurahan 16 Ulu Kecamatan Seberang Ulu II. – Guntur

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here