Kreativitas Karang Taruna R.T 27 R.W 07 Kelurahan Talang Putri, Kecamatan Plaju, boleh dibilang sudah tidak diragukan lagi. Warga R.T 27 dan sekitarnya pun sangat antusias mendukung kegiatan positif para pemuda-pemudi karang taruna,  terutama  kegiatan yang baru-baru ini dilakukan yaitu membuat film pendek.  Produser, sutradara, kru, dan para pemeran film ini berasal dari para pemuda R.T. 27 dan R.T. 26 RW. 07 Kelurahan Talang Putri, Kecamatan Plaju. Para pemain rata-rata tidak mempunyai kemampuan dalam berakting/berperan tapi mampu melaksanakan perannya secara baik. Proses produksi film ini lumayan singkat, yaitu sekitar dua minggu, dengan rincian satu minggu untuk proses syuting dan satu minggu lagi untuk proses editing. Lokasi syuting di lingkungan R.T 27.

Judul film “Meniti Jalan Sailin” berkisah tentang kesenian sastra tutur dan musik khas kebudayaan Batanghari Sembilan, yaitu Gitar Tungal. Di dalam scene-nya dikemas pesan berupa Penyuluhan Bahaya Narkoba. Isi film berkisah tentang seorang pemuda bernama Suseno, biasa dipanggil Seno, yang memilikki keinginan kuat menekuni kesenian tradisional Gitar Tungal atau kerap pula disebut bersailin. Sailin adalah salah seorang toko kesenian tradisional Gitar Tunggal di Palembang yang sudah diakui kemampuannya.

Suatu hari Seno mendapat surat dari kampusnya yang menyatakan bahwa ia terpilih mewakili kota Palembang dalam Festival  Tradisional di Yogyakarta. Dari sinilah permasalahan berlangsung karena selama ini orangtua Seno (Bapak Seno) tidak menyetujui Seno menekuni Gitar Tunggal. Orangtua Seno sangat ingin Seno menyelesaikan kuliahnya menjadi seorang insinyur agar dapat memperbaiki perekonomian keluarga.

Dalam beberapa hari Seno mampu menutupi permasalahan ini dengan berlatih Gitar Tunggal di luar rumah agar tidak diketahui oleh orangtuannya. Saat berlatih Gitar Tunggal Seno dibantu teman-temannya di Karang Taruna. Semua teman Seno sangat mendukung prestasi yang diraih Seno namun juga menyarankan Seno untukmemberitahu orangtuannya dan memberikan pengertian bahwa Seno mampu melaksanakan kedua-duannya dengan baik dalam, yaitu antara kuliah dan berkesenian.

Akhirnya apa yang dilakukan Seno diketahui bapaknya. Sekelompok anak band yang juga menjadi musuh Seno dan sering membuat keresahan di kelurahan  Talang Putri  karena sering bermabuk-mabukan  dan menghisab lem aibon (lem sepatu) melaporkan perihal Seno kepada Bapak Seno. Akibatnya, orangtua seno kontan marah dan mengambil gitar Seno lalu menghancurkannya.

Esok harinya Bapak Seno menyadari kesalahannya setelah mendapat nasihat dari Ibu Seno, yang mengatakan bahwa Seno mampu melakukan tugas kuliahnya dengan baik. Sekarang Seno telah terpilih mewakili Kota Palembang dalam festival di Yogyakarta.

Akhirnya Bapak Seno mengizinkan Seno menekuni musik tradisional Gitar Tunggal dengan syarat kuliahnya tidak berantakan. Malam harinya, sepulang dari masjid Seno kembali mendapat dukungan dari teman-temannya di Karang Taruna 27 (Dua Puluh Tujuh) dengan membelikan gitar baru agar Seno dapat berlatih kembali dan mewakili Kota Palembang.

Sementara itu rombogan anak band Underground mencoba mengunakan shabu-shabu setelah bosan dengan lem aibon dan alcohol. Naas, saat membeli barang haram tersebut rombongan anak band disergap aparat kepolisian yang memang sudah sejak lama memata-matai. Sementara itu Seno berangkat ke Yogya dan mampu menjadi peserta terbaik dengan menjadi juara satu dalam festival tradisional tersebut dan mengharumkan nama Kota Palembang di kancah nasional.

Ketua Karang Taruna R.T 27 Bapak M. Budiman Saputra mengemukakan, “Dari film ini dapat diambil kesimpulan bahwa pergaulan yang salah dapat menjerumuskan kita dan merusak masa depan. Sementara itu pergaulan yang baik dapat menjadikan kita orang yang berguna bagi bangsa, masyarakat, dan agama dengan terus berkarya dan melawan Narkoba.”

Tujuan dari Karang Taruna R.T. 27  membuat film pendek adalah membentuk image yang baik bagi Kelurahan Talang Putri, khususnya para pemudanya yang selama ini dituding kampung setan. Buktinya, mereka mampu menghasilkan kreativitas positif dalam turut membangun mental generasi muda agar menjadi lebih baik.

Ketua R.T 27 Bapak Supriadi (46) sangat bangga pada warganya, “Saya selalu mendukung kegiatan positif dan saya bangga dengan warga saya,” ujar beliau.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here