Salah satu bangunan tua dan bersejarah kerap dikunjungi, adalah rumah keluarga Ong Eng Twan yang berada di Jalan Faqih Usman, Lorong Saudagar Yu Cing, RT 50, No 55, Kelurahan 3/4 Ulu, Seberang Ulu (SU) I. Rumah ini didirikan saudagar Yu Cing lebih dari 300 tahun lalu. Rumah keluarga Ong bercat hijau. Di samping pintu utama terdapat dua kaligrafi China. Bangunan rumah keluarga Ong, yang sebagian besar materialnya kayu unglen terdiri dari empat bagian.

Pertama ruang tamu. Di ruangan tersebut terdapat banyak foto-foto tempo dulu. Yang berukuran paling besar adalah foto Ong Eng Twan pemilik pertama rumah keluarga Ong berserta foto para keturunan keluarga Ong. Bagian kedua adalah ruang pribadi keluarga. Di ruangan ini terdapat empat kamar yang berada di tiap sisi. Kemudian di ruang ketiga terdapat altar tempat sembahyang. Bagian terakhir adalah rumah abu yang menyimpan abu nenek moyang Ong.

“Walaupun tidak memegang dupa lagi, saya selalu berdoa di rumah abu. Agar jasad keluarga diridhoi Sang Pencipta,” ujar Budiman (48), generasi kedelapan keluarga Ong yang kini mengurus rumah tua itu. Saat Suara RT mengunjungi rumah tersebut, Budiman didampingi kerabatnya. Beberapa literatur menyebutkan, Saudagar Yu Cing yang menjadi nama lorong sekaligus pendiri rumah keluarga Ong adalah seorang muslim asal Tiongkok.

Konon dia adalah keturunan Dinasti Ming, salah satu dinasti penguasa China yang mayoritas beragama Islam. Ketika terjadi pemberontakan yang menjatuhkan Dinasti Ming, ada tiga pangeran yang melarikan diri ke Palembang. Tiga pangeran atau saudagar itu bernama Kapiten Bela, Kapiten Asing, dan Kapiten Bungsu. Kapiten Bungsu alias Toa Pe Kong meninggal dunia di Pulau Kemaro, delta di Sungai Musi yang kini menjadi tempat wisata budaya.

Di Pulau ini terdapat pagoda sembilan lantai dan tempat ibadat yang ramai dikunjungi warga Tionghoa saat Cap Go Meh, dua pekan setelah Imlek. Sementara Kapiten Bela dan Kapiten Asing menikah dengan perempuan melayu Palembang. Kapiten Bela memiliki seorang anak bernama Yu Cing. Karena kaya raya, warga setempat memanggilnya saudagar.

Keturunan Yu Cing juga disebut sebagai tokoh penting pada masa Kesultanan Palembang Darussalam. Salah satunya Jaya Laksana, yang namanya juga diabadikan sebagai nama lorong di Kelurahan 3/4 Ulu. Keturunan Yu Cing kini telah beranak pinak di Palembang.

“Karena keramahan dan kearifan kakek buyut kami, warga di sini sampai sekarang menerima kehadiran dengan tangan terbuka,” kata Budiman. Sebagaimana nenek moyangnya Budiman juga beragama Islam. Hanya saja dia baru menjadi muallaf pada 1999 lalu saat akan menikahi isterinya, Ani (38). – Guntur

   

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here