Kalau Jembatan Ampera, Pulau Kemaro, dan BKB, hamper semua orang Palembang sudah tahu, tapi kita tidak pernah tahu bahwa di sini ada rumah tua yang bisa mengangkat nama kota Palembang.

Rumah Oeng Boen Tjit ini memiliki nilai sejarah tersendiri. Dengan didesain lebih kekinian ternyata rumah ini juga bagus dan sangat cocok menjadi destinasi baru,” terang Nanda kepada Suara RT, Minggu (26/11/2017).

Ketua Pelaksana Harian GenPI Sumsel Achmad Nanda Nasrullah mengatakan, dipilih rumah ini sebagai destinasi wisata karena memiliki nilai sejarah dan lokasinya yang mudah diakses. Dengan demikian, Pasar Baba Boentjit dipastikan menjadi tujuan wisata baru di Kota Palembang.

Nanda menambahkan, dalam mengusung rumah tua sebagai destinasi wisata baru, GenPI Sumsel juga melibatkan masyarakat sekitar. Masyarakat terlibat dalam penjualan kuliner khas dan jajanan era tahun ’90-an.

“Masyarakat sekitar kita libatkan untuk mengisi stand-stand kuliner. Ada juga workshop kerajinan nipah yang merupakan sumber penghasilan masyarakat pada masa lampau hingga saat ini,” sambungnya.

Karena tingginya minat pengunjung ke Pasar Baba Boentjit, GenPI Sumsel rencananya akan menggelar beberapa event secara berkala, baik festival kuliner, musik, maupun pasar tradisional setiap dua minggu.

Sementara itu, Ibu Evita yang menjabat sebagai Ketua R.T 50, R.W 02, Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1 mengatakan, sebagai destinasi wisata baru lokasi ini memang sudah sangat layak. Beberapa fasilitas didukung dengan konsep kekinian yang cocok untuk berfoto.

“Konsepnya bagus, ada nilai sejarah juga saat kita berkunjung. Kita juga bisa merasakan bagaimana kehidupan masyarakat pada zaman dahulu di tepian sungai Musi. Ada permainan tradisional dan kuliner, menurut saya akan semakin menarik untuk dikunjungi,” ujar Ibu Evita.

“Kegiatan ini memang bertujuan untuk mempopulerkan rumah peninggalan Baba Ong Boen Tjit sebagai destinasi wisata baru Kota Palembang dan memperkenalkan beberapa kegiatan tradisional pada generasi zaman kini,” kata Achmad Nanda.

Rumah yang kini dihuni keturunan kedelapan dari Baba Ong Boen Tjit ini berada di Lorong Saudagar Yucing No. 55 RT 050 RW 002 Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1.

Untuk bisa mencapai lokasi ini ada beberapa pilihan moda transportasi yang bisa digunakan, lewat sungai atau darat. Jalur sungai bisa menggunakan perahu ketek (perahu kecil) dari dermaga Benteng Kuto Besak, Pasar Sekanak, atau daerah Suro (Ulu Sungai Musi). Waktu tempuhnya 5 hingga 10 menit tergantung titik awal keberangkatan perahu.

“Sudah banyak masyarakat yang penasaran, terutama karena ada kegiatan menyeberang naik perahu. Itu menarik buat mereka,” ujarnya.

Ia mengatakan, Pasar Baba Boentjit akan menambah atraksi baru yang ada di sepanjang Sungai Musi. – Guntur

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here