Nimbang bunting merupakan salah satu adat asli Palembang. Ritual ini diselenggarakan untuk mendoakan usia kehamilan tujuh bulan.

Dalam adat Palembang, ibu dengan usia kehamilan tujuh bulan, didudukan di papan pasang dengan memakai pakaian adat nimbang bunting.

Kain (sewet) yang dililitkan seperti kemben menutupi tubuh. Kedua tangan si ibu diletakkan di atas timbangan untuk ditimbang. Berat tangan itu yang menentukan berat sewet yang akan digunakan.

Lalu tubuh sang ibu (di luar busana adat yang digunakan) dibaluri dengan bedak tiga warna, yakni warna putih, merah, dan hijau. “Tiga warna ini melambangkan hidup warna-warni yang akan dijalani oleh sang bayi,” tutur Hj. Maliha Amin, M. Kes.

Sebelumnya dibacakan dahulu Kitab Manakib Syaikh Muhammad Saman oleh anggota penggajian Musholla Al-Ikhlas.

Prosesi selanjutnya, sang ibu hamil dimandikan oleh ibu kandungnya dan ibu mertua, kerabat perempuan terdekat, setiap kali ibu hamil disiram dan basah, maka si ibu hamil akan berganti sewet hingga tujuh kali.

Setelah ritual siraman, ibu hamil akan disuapi nasi kunyit panggang ayam. Acara ini dipimpin oleh Hj. Cek Maya panggilan akrab dari Hj. Maliha Amin, M. Kes.

Ritual nimbang bunting dilaksanakan di Musholla Al-Ikhlas Jalan K. H. Azhari Lorong Pekapuran, R.T 20 R.W 06, Kelurahan 3/4 Ulu.

Nama-nama ibu hamil yang ikut ritual nimbang bunting adalah Ibu Choirunnisa Wulandari, dan Ibu Ummi Kalsum.

Menurut Ibu Eryani, Ketua R.T 20, R.W 06, acara nimbang bunting sudah jarang terdengar, bahkan masyarakat kita sendiri ada yang tidak mengetahui.

Acara tersebut diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ketua Pengajian Al-Ikhlas Hj. Ratna Juwita. – Guntur

                         

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here