Langgar Nurul Huda memiliki keunikan, yaitu terletak di atas rumah hunian warga pemiliknya. Langgar Nurul Huda beralamat di Jl. Sido Ing Laut  No.3 R.T 01 R.W 01 Kelurahan 35 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II, Palembang.

Ketua R.T 01 Pak  Muhtawari (48) lahir di Palembang pada 9 November 1968 mengatakan, “Saya sebagai RT di sini sangat senang karena dengan ada Langgar Nurul Huda, masyarakat khususnya di R.T 01 mempunyai tempat ibadah yang dekat dengan tempat tinggal mereka.”

Sejarah langgar nurul huda berawal dari seorang ulama, bernama K.H. Mustofa bin Kiagus Malik. Beliau guru mengaji yang berasal dari Rawas daerah Karangdapo. Beliau ke Palembang menyebarkan ajaran Islam dan menjadi guru mengaji di tempat itu. Sebelum menjadi Langgar Nurul Huda, rumah itu menjadi kediaman beliau dan di rumah itulah beliau mengajar mengaji. Ruangan depan rumah itu dahulu menjadi tempat shalat untuk santri-santri beliau.

Langgar Nurul Huda berdiri pada 1927. Penamaan langgar mengambil nama putri pertama beliau, yaitu Nurul Huda. Awalnya perkembangan hanya berfungsi sebagai langgar pribadi. Setelah K.H. Mustofa meninggal dunia diteruskan oleh putra beliau, bernama K.H. Sazili Mustofa bin K.H. Mustofa Malik.

Di kemudian hari K.H. Sazili Mustofa dikenal sebagai guru tajwid terkemuka di Palembang.  Sejak itulah langgar pribadi itu menjadi langgar umum. Saat ini setelah K.H. Sazili Mustofa meninggal dunia, kepemimpinan dilanjutkan oleh keponakan beliau, yaitu cucu dari  K.H. Mustofa Malik bernama Ustad Drs. H. Kms. Makmun Ali.

Bapak Heri Silahuddin (47) lahir di Palembang pada 22 Oktober 1970 bertugas sebagai marbod di Langgar Nurul huda. Beliau menuturkan, “Sebagian dari langgar tersebut masih dihuni oleh anak dan cucu dari K.H. Mustofa. Beliau terpandang sebagai salah seorang imam di Masjid Agung, juri nasional Musyabaqah Tilawatil Qur’an, dan juga dikenal sebagai penyusun buku Mengenal Tajwid.” Tri Indah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here