Penat dan membosankan. Itulah yang kerap didengar dari orang-orang yang sudah cukup lama tinggal di Palembang, Sumatera selatan. Betapa tidak, Kota Empek-empek ini hanya mempunyai sedikit tujuan wisata yang menjanjikan keindahan dan eksotisme.

Purwanto, misalnya, perantau dari Klaten, Jawa Tengah, sempat mengungkapkan kegalauan, beberapa waktu lalu kepada Tabloid Suara RT. Kini rasa galau itu kian menyusut seiring ditemukan tempat unik berfungsi ganda, yakni antara agamais dan eksotis.

Hobi memotret membuat Purwanto tertarik mendalami suasana suatu kampung, yang orang Palembang menyebutnya kampong, terletak di bagian ulu Kota Palembang. Kampong tersebut sangat akrab di telinga sebagai Kampong Assegaf atau Kampong Arab. Suatu perkampungan yang berdiri sejak 1900-an dan mayoritas dihuni keturunan Alhabib Alwi bin Assegaf.

Secara administratif, Kampong Arab terletak di RT 21 RW 08, Kelurahan 16 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II. “Dahulunya kampong ini masih berupa kampong terapung,” kata Muhammad, keturunan ke empat dari keluarga besar Assegaf.

Keluarga Assegaf sangat ketat menjaga tradisi. Kampung Assegaf tak sekadar kampung terapung melainkan menjadi kawasan wisata budaya dengan beraneka bangunan kuno. Warga kampong sepakat tidak latah mengubah keasrian kampung warisan leluhurnya. Rumah-rumah berusia di atas ratusan tahun masih dibiarkan apa adanya tanpa perombakan sedikit pun. Demikian juga dengan arah rumah-rumah utama kampung tersebut yang tetap menghadap ke Sungai Musi.

Sungai Musi adalah denyut Palembang yang membelah Palembang menjadi bagian ilir dan bagian ulu. Dari Kampong Assegaf, dapat dilihat secara jelas kerlap-kerlip lampu-lampu pabrik PT Pusri. Dari sana pula, masih tampak jelas kelenteng yang berdiri megah di antara rerimbunan pohon di Pulo Kemaro. Cantik dan unik untuk jadi obyek kamera para penggemar fotografi.

“Kami hanya lakukan perbaikan agar rumah ini tetap aman ditempati, kalau bentuk dan ornamennya masih asli,” kata Muhammad. Rumah yang hingga kini masih didiami Muhammad terletak tepat di pertigaan Kampung Assegaf. Dari Jalan Raya Jenderal Ahmad Yani, pengunjung hanya menghabiskan beberapa langkah kaki saja untuk tiba “rumah besar” itu.

Dekat kediaman Muhammad, pengunjung bisa berwisata rohani di Mushalla Assegaf. Tak jauh dari mushalla itu, berbelok ke kiri, sekitar 5-6 menit akan dijumpai bangunan tua dan fenomenal. “Itu pabrik es balok tertua dan terbesar di Sumatra Selatan. Hingga kini tetap beroperasi normal,” kata Muhammad.

Pabrik itu beroperasi enam hari sepekan. Dengan hari libur, hari Jumat, seperti halnya liburnya perekonomian di Kampung Assegaf. Siang itu, pabrik es balok PT Assegaf tetap menyuplai bagi kebutuhan para nelayan dan pedagang ikan,” ujar salah seorang staf PT Assegaf.

Menurut Ketua Rukun Tetangga Rohiyana, di Kampung Assegaf, hingga kini, tradisi pembacaan ayat suci Al-Quran secara bersama-sama masih tetap dilaksanakan pada setiap selesai salat Magrib dan Jumat pagi. Rutinitas itu dilakukan dari rumah ke rumah. “Di sini benar-benar serasa di Arab,” kata Rohiyana.

Kebiasaaan itu kini diikuti pula oleh warga pribumi yang telah bermukim di Kampong Assegaf. Menurut Rohiyana, warga yang dia pimpin sebagian besar memang merupakan keturunan dari Arab, tepatnya dari Hadramaut yang terletak di daerah pesisir jazirah Arab bagian selatan atau Yaman.

Di Kota Palembang, kampong Arab tidak hanya ditemukan di Assegaf, melainkan di sepanjang aliran Sungai Musi. Saat ini permukiman tersebut masih dapat ditemukan, seperti di Lorong Asia dan Kampung Sungai Bayas, Kelurahan Kutobatu di Kecamatan Ilir Timur I, Lorong Sungai Lumpur di Kelurahan 9-10 Ulu, Lorong BBC di Kelurahan 12 Ulu, Lorong Al-Munawar di Kelurahan 13 Ulu, serta Lorong Al-Hadad, Lorong Alhabsy, dan Lorong AlKaaf di Kelurahan 14 Ulu.

Habib Alwi Assegaf kelahiran kota Hadramaut Yaman lalu hijrah ke Mentok Pulau Bangka. Kegigihan dan kecerdasan Habib Alwi Assegaf memungkinkan ia pindah ke Palembang dan mendirikan pabrik es pada 1929. Pada masa itu Belanda masih menjajah Indonesia. Tidak hanya pabrik es saja yang didirikan Habib Alwi assegaf tapi juga panglong kayu, pabrik limun.

Para pengunjung masih bisa melihat bangunan zaman Belanda yang masih berdiri dengan kokoh di dalam komplek Assegaf. Menurut penuturan Habib Umar Smith, perusahaan keluarga memang diperuntukan buat keturunan dari Habib Alwi assegaf, bahkan sampai kuburan pun telah disiapkan buat keluarga dan para pekerja pabrik es.G.Gunawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here